PENGARUH EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA DI SMK WAHIDIN KOTA CIREBON

Dana Rattu, Erika (2026) PENGARUH EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA DI SMK WAHIDIN KOTA CIREBON. Diploma thesis, POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA.

[img] Text (PERNYATAAN ORISINALITAS)
ORSINALITAS ERIKA.pdf

Download (452kB)
[img] Text (LEMBAR PENGESAHAN)
PENGESAHAN.pdf

Download (268kB)
[img] Text (PERSETUJUAN PUBLIKASI)
PUBLIKASI.pdf

Download (265kB)
[img] Text (JUDUL)
JUDUL ERIKA.pdf

Download (275kB)
[img] Text (BAB I PENDAHULUAN)
BAB 1 SKRIPSI ERIKA .pdf

Download (167kB)
[img] Text (BAB II TINJAUAN PUSTAKA)
BAB 2 SKRIPSI ERIKA .pdf
Restricted to Repository staff only

Download (278kB) | Request a copy
[img] Text (BAB III METODE PENELITIAN)
BAB 3 SKRIPSI ERIKA .pdf
Restricted to Repository staff only

Download (317kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN)
BAB 4 SKRIPSI ERIKA .pdf
Restricted to Repository staff only

Download (299kB) | Request a copy
[img] Text (BAB V KESIMPULAN DAN SARAN)
BAB 5 SKRIPSI ERIKA .pdf
Restricted to Repository staff only

Download (145kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA ERIKA 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (154kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR LAMPIRAN)
LAMPIRAN ERIKA 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (808kB) | Request a copy

Abstract

Masa remaja merupakan periode transisi kritis dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan serangkaian perubahan kompleks meliputi aspek biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Rentang usia remaja umumnya berada pada 10-13 tahun hingga 18-22 tahun (Hidajahturrokhmah et al., 2018). Keterbatasan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat berdampak pada meningkatnya risiko terjadinya infeksi saluran reproduksi, keterlibatan dalam perilaku berisiko, serta munculnya gangguan kesehatan jangka panjang yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup di masa dewasa (Muharrina et al., 2023). Perilaku ingin mencoba hal baru yang dikombinasikan dengan rangsangan seksual serta minimnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja terlibat dalam perilaku berisiko seperti hubungan seks sebelum nikah, yang dapat mempengaruhi kesehatan reproduksinya (Nopitasari, 2019). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2018), proporsi remaja usia 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sekitar 32,3%, yang mengindikasikan rendahnya pemahaman remaja mengenai aspek kesehatan reproduksi. Permasalahan utama Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia antara lain adalah kurangnya informasi yang akurat dan komprehensif mengenai kesehatan reproduksi (Purba & Rahayu, 2021). Jika seseorang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi, mereka cenderung mengabaikan kesehatan reproduksinya (Aryani et al., 2022). Untuk menanggulangi permasalahan kesehatan reproduksi remaja, salah satu upaya strategis yang dapat dilakukan adalah melalui edukasi kesehatan reproduksi. Edukasi kesehatan merupakan proses pemberian informasi yang sistematis dan terencana kepada individu atau kelompok dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan (Febriana et al., 2024). Edukasi kesehatan reproduksi yang mencakup materi Infeksi Menular Seksual (IMS), serta HIV/AIDS sangat diperlukan sebagai upaya promotif dan preventif sejak dini. Menurut (World Health Organization, 2010), kesehatan reproduksi yang baik pada remaja berkontribusi pada penurunan angka kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, dan gangguan kesehatan mental yang sering dikaitkan dengan masalah reproduksi. Edukasi kesehatan reproduksi memiliki peran krusial dalam membentuk perubahan perilaku remaja karena pada masa remaja terjadi rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perubahan tubuh dan fungsi reproduksi. Dalam perspektif pendidikan kesehatan, pengetahuan memegang peranan kunci sebagai dasar terbentuknya sikap dan perilaku yang sehat (Reffita, 2025). Pengetahuan merupakan hasil informasi yang terserap melalui indra yang dimiliki (Darsini et al., 2019). Remaja yang memiliki pemahaman yang memadai tentang kesehatan reproduksi cenderung lebih mampu mengenali risiko, mengambil keputusan yang lebih rasional, serta mengembangkan perilaku yang mendukung pemeliharaan kesehatan dirinya (Divya Salsabilla Vemala Putri et al., 2025). Sebaliknya, rendahnya tingkat pengetahuan sering kali berkorelasi dengan kesalahan persepsi, sikap abai terhadap risiko, dan praktik yang tidak mendukung kesehatan reproduksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan bukan sekadar tujuan kognitif, melainkan juga merupakan strategi fundamental dalam membangun ketahanan kesehatan reproduksi remaja secara berkelanjutan. Edukasi kesehatan reproduksi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja harus dirancang secara terstruktur dan berbasis bukti ilmiah. Pemberian edukasi yang tepat dan terstruktur terbukti mampu meningkatkan pemahaman remaja terkait Infeksi Menular Seksual (IMS), serta HIV/AIDS (Herawati, 2024). Semakin baik edukasi yang diberikan, maka semakin baik pula pengaruh edukasi kesehatan reproduksi dalam menjaga kesehatan reproduksinya dan mencegah perilaku berisiko. Penelitian terdahulu dari Febriana dkk (2024) mengkaji pengaruh edukasi kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi. Penelitian tersebut menemukan bahwa pola hidup sehat yang mencakup kebersihan lingkungan, dan pengetahuan faktor risiko penyakit sistem reproduksi sangat penting untuk menunjang keberlangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi. Hasil analisis statistik menunjukkan korelasi signifikan antara tingkat pengetahuan dan praktik kesehatan reproduksi (p < 0,05). Temuan ini membuktikan bahwa peningkatan pengetahuan remaja melalui edukasi yang terstruktur berkontribusi pada pembentukan praktik gaya hidup sehat dan kualitas generasi mendatang. Dalam penelitian ini, edukasi kesehatan reproduksi didesain menggunakan media presentasi (PowerPoint) sebagai intervensi sistematis untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai kesehatan reproduksi khususnya IMS, dan HIV/AIDS. Fenomena rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi juga terjadi di Kota Cirebon, khususnya di kalangan remaja. Wawancara awal yang dilakukan peneliti kepada guru di SMK Wahidin Kota Cirebon mengungkapkan bahwa masih banyak remaja yang kurang memahami dan menjaga kesehatan alat reproduksi mereka dikarenakan tingkat pengetahuan yang masih terbilang rendah. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti menggunakan kuesioner awal mengenai kesehatan reproduksi, IMS, dan HIV/AIDS kepada remaja di SMK Wahidin Kota Cirebon menunjukkan bahwa 32 dari 40 siswi masih memiliki pengetahuan yang rendah terkait kesehatan reproduksi khususnya HIV dan IMS. Secara sosiokultural, pembahasan mengenai kesehatan alat reproduksi di SMK Wahidin Kota Cirebon seringkali dihindari dan kurang nyaman dibicarakan oleh siswa-siswi. Kondisi ini menyebabkan banyak remaja yang lebih memilih untuk mencari informasi terkait kesehatan reproduksi melalui media sosial sendiri yang tidak terjamin kebenarannya sehingga menimbulkan misinformasi dan kesalahan pemahaman yang dapat berdampak pada praktik kesehatan reproduksi yang tidak tepat. Berdasarkan fenomena dan permasalahan yang telah diuraikan, maka penelitian dengan judul "Pengaruh Edukasi Kesehatan Reproduksi Terhadap Pengetahuan Remaja di SMK Wahidin Kota Cirebon" perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengevaluasi efektivitas intervensi edukasi kesehatan reproduksi dalam meningkatkan pengetahuan remaja, terkait kesehatan reproduksi khususnya IMS, dan HIV/AIDS, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan di wilayah tersebut. *Adolescence* is a critical transitional period from childhood to adulthood, characterized by a series of complex biological, psychological, social, and cultural changes. Adolescence generally spans the ages of 10–13 years to 18–22 years (Hidajahturrokhmah et al., 2018). Limited knowledge of reproductive health can increase the risk of reproductive tract infections, engagement in risky behaviors, and the development of long-term health problems that may negatively affect quality of life in adulthood (Muharrina et al., 2023). The natural curiosity of adolescents, combined with sexual stimulation and inadequate understanding of reproductive health, may lead them to engage in risky behaviors such as premarital sexual intercourse, which can adversely affect their reproductive health (Nopitasari, 2019). According to the *Basic Health Research (RISKESDAS, 2018)*, only approximately 32.3% of adolescents aged 15–24 years possessed comprehensive knowledge of HIV/AIDS, indicating a low level of understanding regarding reproductive health. One of the major reproductive health issues among Indonesian adolescents is the lack of accurate and comprehensive reproductive health information (Purba & Rahayu, 2021). Individuals with insufficient knowledge of reproductive health are more likely to neglect their reproductive well-being (Aryani et al., 2022). To address adolescent reproductive health problems, one strategic approach is the implementation of reproductive health education. Health education is a systematic and planned process of providing information to individuals or groups with the aim of improving health-related knowledge, attitudes, and behaviors (Febriana et al., 2024). Reproductive health education covering topics such as *Sexually Transmitted Infections (STIs)* and *HIV/AIDS* is essential as an early promotive and preventive measure. According to the *World Health Organization (2010)*, good reproductive health among adolescents contributes to reducing unintended pregnancies, sexually transmitted infections, and mental health problems commonly associated with reproductive health issues. Reproductive health education plays a crucial role in shaping adolescents' behavior because adolescence is marked by heightened curiosity regarding bodily changes and reproductive functions. From a health education perspective, knowledge serves as the foundation for developing healthy attitudes and behaviors (Reffita, 2025). Knowledge is the result of information acquired through the human senses (Darsini et al., 2019). Adolescents with adequate reproductive health knowledge are more likely to recognize health risks, make rational decisions, and adopt behaviors that promote and maintain their reproductive health (Divya Salsabilla Vemala Putri et al., 2025). Conversely, limited knowledge is often associated with misconceptions, neglect of health risks, and practices that do not support reproductive health. This highlights that improving knowledge is not merely a cognitive objective but also a fundamental strategy for strengthening adolescents' reproductive health resilience in a sustainable manner. Effective reproductive health education aimed at improving adolescents' knowledge should be structured and evidence-based. Properly designed educational interventions have been shown to improve adolescents' understanding of *Sexually Transmitted Infections (STIs)* and *HIV/AIDS* (Herawati, 2024). The better the quality of reproductive health education provided, the greater its impact on maintaining reproductive health and preventing risky behaviors. A previous study conducted by Febriana et al. (2024) examined the effect of reproductive health education on adolescents' knowledge regarding the importance of maintaining reproductive health. The study found that healthy lifestyle practices, including environmental hygiene and knowledge of reproductive disease risk factors, are essential for sustaining human life across generations. Statistical analysis demonstrated a significant correlation between the level of knowledge and reproductive health practices (p < 0.05). These findings indicate that improving adolescents' knowledge through structured educational interventions contributes to the development of healthy lifestyle practices and the well-being of future generations. In the present study, reproductive health education was delivered using *PowerPoint presentations* as a systematic intervention to enhance female adolescents' knowledge of reproductive health, particularly regarding STIs and HIV/AIDS. The issue of limited reproductive health knowledge is also evident among adolescents in *Cirebon City. Preliminary interviews conducted by the researcher with teachers at **SMK Wahidin Cirebon City* revealed that many students still have limited understanding of and concern for reproductive health due to their relatively low level of knowledge. A preliminary survey using a questionnaire on reproductive health, STIs, and HIV/AIDS administered to students at SMK Wahidin Cirebon City found that *32 out of 40 female students* demonstrated low levels of knowledge regarding reproductive health, particularly HIV and STIs. From a sociocultural perspective, discussions about reproductive health are often considered sensitive and are therefore avoided or perceived as uncomfortable among students. Consequently, many adolescents seek reproductive health information independently through social media, where the accuracy of the information cannot always be guaranteed. This may result in misinformation and misconceptions, which can ultimately lead to inappropriate reproductive health practices. Based on the aforementioned issues and phenomena, the present study entitled The Effect of Reproductive Health Education on Adolescents Knowledge at SMK Wahidin Cirebon City was conducted to evaluate the effectiveness of reproductive health education interventions in improving adolescents' knowledge, particularly regarding reproductive health, STIs, and HIV/AIDS. The findings are expected to provide a basis for the development of more comprehensive and sustainable reproductive health education programs in the region.

Item Type: Thesis (Diploma)
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDKEmail
ConsultantWidiyastuti, DyahUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
ConsultantFitrianingsih, YeniUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Edukasi kesehatan reproduksi, pengetahuan, remaja, one group pretest-posttest, Wilcoxon. SKRIPSICB42026, SKRIPSICB4CRB, SKRIPSICRB
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
R Medicine > RA Public aspects of medicine
R Medicine > RG Gynecology and obstetrics
Divisions: Jurusan Kebidanan > D4 Kebidanan
Depositing User: CB4 Erika Dana Rattu
Date Deposited: 20 Jul 2026 04:37
Last Modified: 20 Jul 2026 04:37
URI: http://repo.poltekkestasikmalaya.ac.id/id/eprint/9766

Actions (login required)

View Item View Item